Kepala Polda Bali Irjen Made Mangku Pastika menyatakan, keberadaan kaum pedofilia di Bali merupakan bagian dari jaringan internasional.

“Terbukti dari yang sudah kami tangkap, mereka berasal dari berbagai negara seperti Perancis, Amerika Serikat, dan Australia,” ujarnya, Kamis (12/5).

Menurut dia, jaringan itu terbentuk dengan adanya informasi yang disebarkan melalui internet ke seluruh dunia disertai gambar anak-anak Bali yang dipotret dalam keadaan telanjang. “Jadi, jangan bangga kalau anak-anak kita difoto-foto ketika sedang mandi di sungai atau di pantai,” katanya mengingatkan.

Informasi itu bahkan disertai dengan petunjuk daerah-daerah mana di Bali yang bisa dimasuki, serta bagaimana caranya. Mereka kemudian masuk ke Bali dengan membawa bendera yayasan sosial asing atau pekerja sosial sukarela dan banyak membantu masyarakat di kantong-kantong kemiskinan. Kemudian para orang tua anak malah sukarela untuk menyerahkan anak-anaknya karena merasa mendapatkan pertolongan.

Ditegaskan Pastika, keberadaan mereka itu merupakan ekses dari perkembangan Bali sebagai daerah wisata dunia. Karenanya lebih mudah pula untuk mempromosikan hal-hal yang lain semisal Bali sebagai daerah wisata sex.

Untuk mengatasi masalah ini, kata dia, bukan hanya polisi yang bergerak tetapi juga seluruh komponen masyarakat. Terutama untuk memikirkan cara
menggantikan peran yayasan-yayasan sosial asing yang sebagian menjadi kedok bagi kaum pedofil itu.

Menanggapi pernyataan Pastika itu, Direktur LSM Commite Againts Sexual Abuse (CASA) Prof dr LK Suryani menegaskan, perlunya dukungan bagi polisi dalam
menginvestigasi kasus-kasus pedofilia di Bali. Ia mengunkapkan pengalaman, ketika bersama polisi melakukan investigasi ke daerah-daerah terpencil di Bali, ternyata polisi yang bertugas sama-sekali tidak dibekali uang saku dari atasannya. Rofiqi Hasan

Categories: Berita